Belajar,belajar,dan belajar. Hal itu yang telah menjadi rutinitas yang dilakukan oleh manusia baik tua maupun muda, semenjak usia belia sampai senja.
Tak ada habisnya kita terus menggali ilmu dari berbagai aspek dan dalam konsep yang beragam. Semua dipelajari manusia, secara formal,non formal, maupun in formal.

Disini kita akan mencoba untuk membahas esensi dari kata “belajar” itu sendiri. Pendapat sederhana yang dikemukakan mengenai belajar ialah “dengan belajar kita menjadi pintar” ya tentu kita belajar maka akan pintar, pintar mengatur kinerja otak secara optimal dalam aktivitas sehari-hari dari bekerja, berinteraksi, berorganisasi, dll. Tapi saya ingin memperkecil lagi ruang lingkup pembahasan mengenai tulisan ini yaitu mengenai “Belajar secara Formal” dan “Belajar Formal”
Belajar secara Formal ini merupakan arahan dalam pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 setelah Amandemen yang berbunyi “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan” yang menginstruksikan kepada masyarakat Indonesia secara keseluruhan untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan khususnya secara Formal. Hal ini seiring berjalan nya waktu pemerintah mulai bergerak cepat untuk menerapkan pasal tersebut dalam berbagai terobosan nya guna “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” bagi para generasi muda nya untuk belajar dan mendapat pengajaran.

Sederhana saja, sewaktu SD sampai SMA anak bangsa mendapat materi – materi ajar yang dasar seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, SAINS, Ekonomi. Namun pada implementasi nya dari belajar ini manusia dapat memutar balikan otaknya demi dua hal yaitu Kebaikan dan Keburukan. Dengan belajar pula manusia dapat mengolah Hawa Nafsu mereka sesuai keinginan mereka sendiri.

Kita ambil beberapa Variabel yang mewakili kelima mata pelajaran yang sudah disebutkan diatas ini :
1.       Bahasa Indonesia : dalam pelajaran ini, kita diajarkan untuk bertata bahasa Indonesia yang baik secara lisan serta membuat suatu karya tulis ilmiah yang sepadan dengan EYD. Bahasa Indonesia pula yang menjadi pemersatu seluruh rakyat dari berbagai daerah dan bahasanya untuk menjadi satu, INDONESIA. Seperti bahasa Kromo Inggil dan Ngoko pada Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia juga seperti bahasa kromo nya dari bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari. Dalam acara formal seperti Pidato Kenegaraan, Rapat, Kongres ,dll.  Bahasa Indonesia baku lah yang digunakan. Namun tidak dalam kehidupan sehari-hari, kenapa demikian? Karena jika kita menggunakan bahasa yang baku, bagi pola pikir kita semuanya pasti tidaklah efisien dalam pengucapan nya. Contohnya dalam kegiatan pasar sehari-hari tidak mungkin terjadi dialog “Bu, Berapakah harga seikat sayur bayam ini”? , lalu si pedagang menjawabnya “Harga seikat sayur bayam itu adalah Seribu Rupiah saja”. Tidak mungkin ya kan? Anehnya dalam menjawab soal bahasa Indonesia justru kita dituntut untuk menjawab pertanyaan dengan kata yang lengkap sementara dalam fakta nya kita hanya berbicara “bu, ini seikat nya berapa”? ... “seribu mas” .

2.       Bahasa Inggris : untuk yang satu ini, menjadi mata pelajaran favorit bagi sebahagian siswa karena dengan menguasai Bahasa Inggris itu berarti mendapat salah satu bekal untuk bergelut didunia kerja kelak. Ya bahasa inggris memang tak dipungkiri sebagai bahasa internasional dan semua orang didunia memang diusahakan untuk paling tidak dapat berbicara kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa inggris . namun disisi lain, hal ini menjadi transisi dalam pengucapan Bahasa Ibu kita yang diselipkan dengan aksen atau kata bahasa inggris pada kalangan tertentu dan sudah mulai menyebar khususnya kalangan selebritas dan remaja. Mereka gemar menggunakan aksen inggris karbitan mereka dalam berbicara talkshow, wawancara, jejaring sosial, dll. Bahasa Indonesia saja yang sebenarnya adalah Bahasa Serapan dari bahasa Arab, Cina, Melayu, Belanda dan sebagian dari Inggris ini mungkin beberapa tahun lagi akan punah dan berganti menjadi English, bukan English UK ataupun English US melainkan English INA (Indonesia) Inggris dengan logat Indonesia betawi, Indonesia Jawa, Indonesia Sunda, Indonesia Papua, Indonesia Sumatera dan lain lain.

3.       Matematika : dengan materi ajar ini kita dapat menghitung berbagai angka, membuat prediksi kemungkinan, beserta yang lainnya. Dengan matematika logika kita menjadi lebih hidup dalam menjalankan kehidupan disamping menggunakan pandangan Agama. Namun di sisi lainnya, dengan logika nya manusia juga dapat berspekulasi, spekulasi Togel, spekulasi Judi Bola, Spekulasi BlackJack, Poker.

4.       Ekonomi : dalam mata pelajaran ini diajarkan bagaimana tata cara perhitungan dalam pembukuan, manajerial dengan jurnal-jurnal atau table yang berisikan kolom dan angka. Disamping itu pelajaran ini juga memuat tentang filosofi-filosofi tentang Ekonomi yang terkenal adalah “manusia adalah makhluk Ekonomi” , “Sebagai Makhluk Ekonomi, maka Manusia akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu sebanyak mungkin dengan pengeluaran yang sedikit mungkin” kurang lebih seperti itu.. dengan materi Ekonomi manusia dapat membangun Perusahan-perusahaan penopang kehidupan umat manusia, mengontrol jalur perdagangan beserta yang lainnya. Ya tak dipungkiri juga dengan teori diatas juga dijadikan Doktrin bagi segelintir orang orang tertentu, maka atas dasar itu lahirlah Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan sebangsanya.

5.       Sains : ya walaupun saya tidak begitu paham mengenai mata pelajaran ini dahulu kala masih menjadi siswa, tetapi berbagai senyawa partikel-partikel, vegetasi, dll ini menjadi manfaat manakala manusia dapat menginterpretasikan materi ini untuk membuat obat-obatan, membantu dalam proses persalinan baik manusia maupun hewan, disisi lain manusia dengan akal sebelahnya juga berhasil menciptakan NAPZA , Rokok, Minuman beralkohol beserta jajarannya.


Lantas bagaimana dengan Pendidikan Agama? Semakin terpinggirkan saja dengan pengurangan Jam Pelajarannya yang hanya 2 jam seminggu. Tidak seperti 5 mata pelajaran diatas yang biasanya 4-6 jam dalam seminggu. Inilah bukti, mengapa remaja kita lebih suka mesum daripada beribadah, inilah bukti mengapa dewasa kita lebih tertarik membunuh daripada memaafkan.
Selepas pendidikan wajib belajar, remaja yang beranjak dewasa sebahagian memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah. Kuliah itu berarti fasilitas baru, teman baru, pengalaman baru dan semua serba baru. Sebahagian dari mereka kuliah dalam kuliah tidur dikelas, mereka ujian dalam ujian salin jiplak. Sebahagian dosen pula tak begitu penting dengan jawaban mahasiswanya, asal banyak sudah dapat minimal B kalau tulisannya bagus dan rapih sudah pasti A. lulus kuliah, selamat Anda baru saja menambah Jumlah pengangguran di Indonesia yang ke sekian juta jiwa. Yang bekerja? Karena lolos tes dengan bantuan orang dalam atau membayar biaya registrasi operasional yang sedikit lebih tinggi ke dalam saku Panitia nya. 
Setelah itu, mereka yang sudah berjas, berdasi melanjutkan dinamika kehidupan sebelum menjelang hari tua. Berbicara lantang dan tak jarang melakukan interupsi dalam KLB , melontarkan pernyataan pedas, bagai berwibawa namun kosong. Dalam rapat hanya bisa bolos, kebiasaan bolos sekolah dan kuliah nya dulu kini diteruskan dalam bolos rapat paripurna, sedikit yang hadir itupun hanya mengobrol layaknya anak TK, atau menonton Porno yang katanya dilarang dengan dalih mencari hiburan. Atau mereka yang berseragam, main tilang main tuntut dengan kasus kecil yang berbuntut. Dan mereka yang yang main tembak sana sini, pikir mereka ditakuti karena seragamnya padahal mereka sebenarnya terlalu banyak bermain game Point Blank atau Counter Strike.
Dalam belajar, hanya orang-orang yang pandai secara jabatan saja yang menghasilkan “Belajar Formal” dari “Belajar Secara Formal” masa mereka muda dulu. Jika tidak menggunakan  otak dan hati sebaik-baiknya dalam mencerna pelajaran, tak pelak kita akan tersesat dari pelajaran yang seharusnya menuntun kita ke jalan yang benar karena ego tinggi . belajar dan berdoa, harapan lagi yang hanya bisa terlontar, semoga generasi bangsa masa depan akan lebih baik dari generasi sebelumnya. Saiyidito Hatta