BELAJAR
04.47
Diposting oleh Unknown
Belajar,belajar,dan belajar. Hal itu yang
telah menjadi rutinitas yang dilakukan oleh manusia baik tua maupun muda,
semenjak usia belia sampai senja.
Tak ada habisnya kita terus menggali ilmu dari berbagai aspek dan dalam konsep yang beragam. Semua dipelajari manusia, secara formal,non formal, maupun in formal.
Tak ada habisnya kita terus menggali ilmu dari berbagai aspek dan dalam konsep yang beragam. Semua dipelajari manusia, secara formal,non formal, maupun in formal.
Disini kita akan mencoba untuk membahas
esensi dari kata “belajar” itu sendiri. Pendapat sederhana yang dikemukakan
mengenai belajar ialah “dengan belajar kita menjadi pintar” ya tentu kita
belajar maka akan pintar, pintar mengatur kinerja otak secara optimal dalam
aktivitas sehari-hari dari bekerja, berinteraksi, berorganisasi, dll. Tapi saya
ingin memperkecil lagi ruang lingkup pembahasan mengenai tulisan ini yaitu
mengenai “Belajar secara Formal” dan “Belajar Formal”
Belajar secara Formal ini merupakan arahan
dalam pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 setelah Amandemen yang berbunyi “Setiap warga
Negara berhak mendapat pendidikan” yang menginstruksikan kepada masyarakat
Indonesia secara keseluruhan untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan
khususnya secara Formal. Hal ini seiring berjalan nya waktu pemerintah mulai
bergerak cepat untuk menerapkan pasal tersebut dalam berbagai terobosan nya
guna “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” bagi para generasi muda nya untuk belajar
dan mendapat pengajaran.
Sederhana saja, sewaktu SD sampai SMA anak
bangsa mendapat materi – materi ajar yang dasar seperti Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Matematika, SAINS, Ekonomi. Namun pada implementasi nya dari belajar
ini manusia dapat memutar balikan otaknya demi dua hal yaitu Kebaikan dan
Keburukan. Dengan belajar pula manusia dapat mengolah Hawa Nafsu mereka sesuai
keinginan mereka sendiri.
Kita ambil beberapa Variabel yang mewakili
kelima mata pelajaran yang sudah disebutkan diatas ini :
1. Bahasa Indonesia : dalam pelajaran ini, kita diajarkan untuk bertata bahasa
Indonesia yang baik secara lisan serta membuat suatu karya tulis ilmiah yang
sepadan dengan EYD. Bahasa Indonesia pula yang menjadi pemersatu seluruh rakyat
dari berbagai daerah dan bahasanya untuk menjadi satu, INDONESIA. Seperti
bahasa Kromo Inggil dan Ngoko pada Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia juga seperti bahasa kromo nya dari bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari. Dalam
acara formal seperti Pidato Kenegaraan, Rapat, Kongres ,dll. Bahasa Indonesia baku lah yang digunakan.
Namun tidak dalam kehidupan sehari-hari, kenapa demikian? Karena jika kita
menggunakan bahasa yang baku, bagi pola pikir kita semuanya pasti tidaklah
efisien dalam pengucapan nya. Contohnya dalam kegiatan pasar sehari-hari tidak
mungkin terjadi dialog “Bu, Berapakah
harga seikat sayur bayam ini”? , lalu si pedagang menjawabnya “Harga seikat sayur bayam itu adalah Seribu
Rupiah saja”. Tidak mungkin ya kan? Anehnya dalam menjawab soal bahasa Indonesia
justru kita dituntut untuk menjawab pertanyaan dengan kata yang lengkap
sementara dalam fakta nya kita hanya berbicara “bu, ini seikat nya berapa”? ... “seribu mas” .
2. Bahasa Inggris : untuk yang satu ini, menjadi mata pelajaran favorit bagi sebahagian
siswa karena dengan menguasai Bahasa Inggris itu berarti mendapat salah satu
bekal untuk bergelut didunia kerja kelak. Ya bahasa inggris memang tak
dipungkiri sebagai bahasa internasional dan semua orang didunia memang
diusahakan untuk paling tidak dapat berbicara kalimat-kalimat sederhana dalam
bahasa inggris . namun disisi lain, hal ini menjadi transisi dalam pengucapan
Bahasa Ibu kita yang diselipkan dengan aksen atau kata bahasa inggris pada
kalangan tertentu dan sudah mulai menyebar khususnya kalangan selebritas dan
remaja. Mereka gemar menggunakan aksen inggris karbitan mereka dalam berbicara talkshow, wawancara, jejaring
sosial, dll. Bahasa Indonesia saja yang sebenarnya adalah Bahasa Serapan dari
bahasa Arab, Cina, Melayu, Belanda dan sebagian dari Inggris ini mungkin
beberapa tahun lagi akan punah dan berganti menjadi English, bukan English UK
ataupun English US melainkan English INA (Indonesia) Inggris dengan logat
Indonesia betawi, Indonesia Jawa, Indonesia Sunda, Indonesia Papua, Indonesia
Sumatera dan lain lain.
3. Matematika : dengan materi ajar ini kita dapat menghitung berbagai angka,
membuat prediksi kemungkinan, beserta yang lainnya. Dengan matematika logika
kita menjadi lebih hidup dalam menjalankan kehidupan disamping menggunakan pandangan
Agama. Namun di sisi lainnya, dengan logika nya manusia juga dapat
berspekulasi, spekulasi Togel, spekulasi Judi Bola, Spekulasi BlackJack, Poker.
4. Ekonomi : dalam mata pelajaran ini diajarkan bagaimana tata cara
perhitungan dalam pembukuan, manajerial dengan jurnal-jurnal atau table yang
berisikan kolom dan angka. Disamping itu pelajaran ini juga memuat tentang
filosofi-filosofi tentang Ekonomi yang terkenal adalah “manusia adalah makhluk
Ekonomi” , “Sebagai Makhluk Ekonomi, maka Manusia akan berusaha untuk
mendapatkan sesuatu sebanyak mungkin dengan pengeluaran yang sedikit mungkin”
kurang lebih seperti itu.. dengan materi Ekonomi manusia dapat membangun Perusahan-perusahaan
penopang kehidupan umat manusia, mengontrol jalur perdagangan beserta yang
lainnya. Ya tak dipungkiri juga dengan teori diatas juga dijadikan Doktrin bagi
segelintir orang orang tertentu, maka atas dasar itu lahirlah Korupsi, Kolusi,
Nepotisme dan sebangsanya.
5. Sains : ya walaupun saya tidak begitu paham mengenai mata pelajaran ini
dahulu kala masih menjadi siswa, tetapi berbagai senyawa partikel-partikel,
vegetasi, dll ini menjadi manfaat manakala manusia dapat menginterpretasikan
materi ini untuk membuat obat-obatan, membantu dalam proses persalinan baik
manusia maupun hewan, disisi lain manusia dengan akal sebelahnya juga berhasil
menciptakan NAPZA , Rokok, Minuman beralkohol beserta jajarannya.
Lantas bagaimana dengan Pendidikan Agama? Semakin
terpinggirkan saja dengan pengurangan Jam Pelajarannya yang hanya 2 jam
seminggu. Tidak seperti 5 mata pelajaran diatas yang biasanya 4-6 jam dalam
seminggu. Inilah bukti, mengapa
remaja kita lebih suka mesum daripada beribadah, inilah bukti mengapa dewasa
kita lebih tertarik membunuh daripada memaafkan.
Selepas pendidikan wajib belajar, remaja
yang beranjak dewasa sebahagian memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi, kuliah. Kuliah itu berarti fasilitas baru, teman baru, pengalaman
baru dan semua serba baru. Sebahagian dari mereka kuliah dalam kuliah tidur
dikelas, mereka ujian dalam ujian salin jiplak. Sebahagian dosen pula tak
begitu penting dengan jawaban mahasiswanya, asal banyak sudah dapat minimal B
kalau tulisannya bagus dan rapih sudah pasti A. lulus kuliah, selamat Anda baru
saja menambah Jumlah pengangguran di Indonesia yang ke sekian juta jiwa. Yang
bekerja? Karena lolos tes dengan bantuan orang dalam atau membayar biaya
registrasi operasional yang sedikit lebih tinggi ke dalam saku Panitia
nya.
Setelah itu, mereka yang sudah berjas,
berdasi melanjutkan dinamika kehidupan sebelum menjelang hari tua. Berbicara
lantang dan tak jarang melakukan interupsi dalam KLB , melontarkan pernyataan
pedas, bagai berwibawa namun kosong. Dalam rapat hanya bisa bolos, kebiasaan
bolos sekolah dan kuliah nya dulu kini diteruskan dalam bolos rapat paripurna,
sedikit yang hadir itupun hanya mengobrol layaknya anak TK, atau menonton Porno
yang katanya dilarang dengan dalih mencari hiburan. Atau mereka yang
berseragam, main tilang main tuntut dengan kasus kecil yang berbuntut. Dan
mereka yang yang main tembak sana sini, pikir mereka ditakuti karena seragamnya
padahal mereka sebenarnya terlalu banyak bermain game Point Blank atau Counter
Strike.
Dalam belajar, hanya orang-orang yang
pandai secara jabatan saja yang menghasilkan “Belajar Formal” dari “Belajar
Secara Formal” masa mereka muda dulu. Jika tidak menggunakan otak dan hati sebaik-baiknya dalam mencerna
pelajaran, tak pelak kita akan tersesat dari pelajaran yang seharusnya menuntun
kita ke jalan yang benar karena ego tinggi . belajar dan berdoa, harapan lagi
yang hanya bisa terlontar, semoga generasi bangsa masa depan akan lebih baik
dari generasi sebelumnya. Saiyidito Hatta
This entry was posted on October 4, 2009 at 12:14 pm, and is filed under
. Follow any responses to this post through RSS. You can leave a response, or trackback from your own site.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

24 Juni 2013 pukul 08.06
Nice share too.. :)