JALAN DUA ARAH
















Hal yang lumrah disebut dengan kematian atau meninggalnya seseorang ini sudah pasti terjadi pada siapapun makhluk bumi dan akan segera menuju alam akhirat, menunggu hari Kiamat dan
berkumpulnya semua manusia di padang masyar dan disitu adalah “judgement day” atau Yaumul Hisab. Hari pengadilan se adil-adilnya amal perbuatan manusia baik maupun buruk selama berada di bumi (Menurut Ajaran Islam) . saya tidak tahu mengenai hari perhitungan seperti ini menurut kepercayaan agama lain tapi secara garis besarnya siapapun itu pasti akan mengalaminya, Tua – Muda , Kaya – Miskin , Pejabat – Pengemis, siapapun.

Sedang apa yang kita lakukan selama dibumi? Memuaskan nafsu, ya wajib. Beribadah , ya kalau ingat atau kalau sakit, atau kalau sedang susah, kalau kalau dan kalau alasan macam ngelesnya koruptor di Pengadilan Tipikor saja. Tidak menampik bahwa kita juga masih termasuk salah satunya. Dari kecil orang tua selalu mengingatkan untuk segera sholat di masjid kala adzan sudah berkumandang namun masih banyak yang berkata “ya sebentar lagi, masih tanggung” , “nanti saja sholat sendiri , lagi sibuk nih” . itu salah satu contohnya.

Ada suatu cerita nyata, yaitu beberapa  orang disekitar ku, disebutkan disini tiga orang saja, mereka masih terbilang muda namun selisih usia yang tidak begitu jauh dari ku yang tidak berapa lama sebelumnya kami berjumpa, namun tak lama kemudian yang aku dapat kabar dari sanak kerabat yang lain bahwa orang orang itu satu persatu sudah pergi mendahului, pergi menghadapNya. Sungguh aneh, mereka-mereka ini yang sudah lebih dulu ini pergi dengan cara yang kurang mengenakan bagi diri mereka masing-masing. Ibarat seseorang ingin berpergian tetapi ia tidak memakai sandal, tidak membawa dompet, atau tidak membawa bekal. Orang yang satu ini aku kenal seorang pemabuk berat, ia pergi dalam keadaan mabuk, yang satu lagi seorang penyanyi lokal, kehidupannya penuh dengan aktivitas yang padat sehingga ia pergi beserta kepadatan aktivitasnya itu, lalu yang satu ini seorang perempuan, orangnya penuh dengan derita yang aku ketahui ia ditinggalkan oleh ayahnya yang tak bertanggung jawab dan dikucilkan oleh keluarganya, saya bertemu dengan wanita ini dan ia sempat bercengkerama dengan ku,  namun lagi-lagi Allah telah memanggilnya dalam jalan yang lain yaitu ia berada masih dalam deritanya yang mengenaskan diatas rel kereta.

Begitu dekat jarak mereka pergi yang diberitakan kepada ku, sesaat aku pun menjadi merasakan apakah waktu ku sudah dekat pula? Jantung berdetak cepat, darah deras mengalir dari arteri dan vena yang ada didalam raga ini. Kulitpun masih meneteskan keringatnya. Kenapa? Inikah rasa takut yang sebenarnya? Takut akan menghadap sang pencipta, takut karena tak melaksanakan perintahnNya dan menjauhi laranganNya. Tidak siap karena bekal yang terbentang melimpah tidak lantas kita ambil untuk menghadapnNya. TAKUT ! seperti ketakutan seorang suami yang kerja tanpa hasil dan pulang tanpa membawa sebungkus nasi bagi keluarganya.

Kita masih senantiasa mengurusi kepentingan pribadi, memandang fanatik apa yang kita yakini, saling tuding menuding dengan yang lain, membakar “Rumah” orang lain yang seharusnya kita diajari untuk saling bertoleransi, saling menghormati karena sejatinya mereka juga saudara kita. padahal kalau mereka berbalas ganti membakar “RumahNya” yang diamanatkan kepada kita pasti kita marah. Namun kita masih tidak peduli akan kemarahan mereka. Kita beribadah berjama’ah yaitu shalat, shalat berdasarkan jabatan. Siapa yang mempunyai jabatan tinggi maka dia yang berada di saf terdepan, kita saling berjauhan padahal aturan nya dalam shalat itu kita harus merapatkan saf. sangat kental terasa, terutama ketika shalat Ied, jarak antara si kaya dan si miskin kontras terlihat berdasarkan lebar dan corak mewah warna sajadah masing-masing, padahal Tiada yang berbeda diantara kita di mataNya namun kita membedakan diri sendiri dengan menggunakan sajadah yang lebih besar, sehingga tiada kerapatan antara kaki-kaki para makmum seperti zaman Rasulullah berjama’ah bersama para pengikutnya dulu. Perasaan kita masih penuh curiga , takut, sehingga ketika mendirikan shalat sendiri pun kita beradu cepat dengan tuntutan pekerjaan. Itulah sebahagian yang terjadi pada kita yang mengaku beragama dan beradab ini.

Disini tidak ada upaya untuk menggurui, ataupun merasa paling benar, kita tidak tahu kapan kita akan menghadap sang Illahi seperti  orang-orang diatas tadi? Saya bukan Alim Ulama atau yang sejenisnya. Tapi perlu direnungkan bahwa suatu saat nanti kita akan berbungkus kain putih seperti mereka dan akan menerima balasan yang setimpal karena kita yang menentukan Jalan, jalan menuju dunia selanjutnya. Saiyidito Hatta

Ebiet G Ade ~ masih ada waktu