JALAN MENUJU DUNIA SELANJUTNYA
03.03
Diposting oleh Unknown
Hal yang lumrah disebut dengan kematian
atau meninggalnya seseorang ini sudah pasti terjadi pada siapapun makhluk bumi
dan akan segera menuju alam akhirat, menunggu hari Kiamat dan
berkumpulnya
semua manusia di padang masyar dan disitu adalah “judgement day” atau Yaumul
Hisab. Hari pengadilan se adil-adilnya amal perbuatan manusia baik maupun buruk
selama berada di bumi (Menurut Ajaran Islam) . saya tidak tahu mengenai hari
perhitungan seperti ini menurut kepercayaan agama lain tapi secara garis
besarnya siapapun itu pasti akan mengalaminya, Tua – Muda , Kaya – Miskin ,
Pejabat – Pengemis, siapapun.
Sedang apa yang kita lakukan selama dibumi?
Memuaskan nafsu, ya wajib. Beribadah , ya kalau ingat atau kalau sakit, atau kalau
sedang susah, kalau kalau dan kalau alasan macam ngelesnya koruptor di Pengadilan Tipikor saja. Tidak menampik bahwa
kita juga masih termasuk salah satunya. Dari kecil orang tua selalu
mengingatkan untuk segera sholat di masjid kala adzan sudah berkumandang namun
masih banyak yang berkata “ya sebentar lagi, masih tanggung” , “nanti saja
sholat sendiri , lagi sibuk nih” . itu salah satu contohnya.
Ada suatu cerita nyata, yaitu beberapa orang disekitar ku, disebutkan disini tiga
orang saja, mereka masih terbilang muda namun selisih usia yang tidak begitu
jauh dari ku yang tidak berapa lama sebelumnya kami berjumpa, namun tak lama
kemudian yang aku dapat kabar dari sanak kerabat yang lain bahwa orang orang
itu satu persatu sudah pergi mendahului, pergi menghadapNya. Sungguh aneh,
mereka-mereka ini yang sudah lebih dulu ini pergi dengan cara yang kurang
mengenakan bagi diri mereka masing-masing. Ibarat seseorang ingin berpergian
tetapi ia tidak memakai sandal, tidak membawa dompet, atau tidak membawa bekal.
Orang yang satu ini aku kenal seorang pemabuk berat, ia pergi dalam keadaan
mabuk, yang satu lagi seorang penyanyi lokal, kehidupannya penuh dengan
aktivitas yang padat sehingga ia pergi beserta kepadatan aktivitasnya itu, lalu
yang satu ini seorang perempuan, orangnya penuh dengan derita yang aku ketahui
ia ditinggalkan oleh ayahnya yang tak bertanggung jawab dan dikucilkan oleh
keluarganya, saya bertemu dengan wanita ini dan ia sempat bercengkerama dengan
ku, namun lagi-lagi Allah telah
memanggilnya dalam jalan yang lain yaitu ia berada masih dalam deritanya yang
mengenaskan diatas rel kereta.
Begitu dekat jarak mereka pergi yang
diberitakan kepada ku, sesaat aku pun menjadi merasakan apakah waktu ku sudah
dekat pula? Jantung berdetak cepat, darah deras mengalir dari arteri dan vena
yang ada didalam raga ini. Kulitpun masih meneteskan keringatnya. Kenapa?
Inikah rasa takut yang sebenarnya? Takut akan menghadap sang pencipta, takut
karena tak melaksanakan perintahnNya dan menjauhi laranganNya. Tidak siap karena
bekal yang terbentang melimpah tidak lantas kita ambil untuk menghadapnNya.
TAKUT ! seperti ketakutan seorang suami yang kerja tanpa hasil dan pulang tanpa
membawa sebungkus nasi bagi keluarganya.
Kita masih senantiasa mengurusi kepentingan
pribadi, memandang fanatik apa yang kita yakini, saling tuding menuding dengan
yang lain, membakar “Rumah” orang lain yang seharusnya kita diajari untuk
saling bertoleransi, saling menghormati karena sejatinya mereka juga saudara
kita. padahal kalau mereka berbalas ganti membakar “RumahNya” yang diamanatkan
kepada kita pasti kita marah. Namun kita masih tidak peduli akan kemarahan
mereka. Kita beribadah berjama’ah yaitu shalat, shalat berdasarkan jabatan.
Siapa yang mempunyai jabatan tinggi maka dia yang berada di saf terdepan, kita
saling berjauhan padahal aturan nya dalam shalat itu kita harus merapatkan saf.
sangat kental terasa, terutama ketika shalat Ied, jarak antara si kaya dan si
miskin kontras terlihat berdasarkan lebar dan corak mewah warna sajadah
masing-masing, padahal Tiada yang berbeda diantara kita di mataNya namun kita
membedakan diri sendiri dengan menggunakan sajadah yang lebih besar, sehingga
tiada kerapatan antara kaki-kaki para makmum seperti zaman Rasulullah
berjama’ah bersama para pengikutnya dulu. Perasaan kita masih penuh curiga ,
takut, sehingga ketika mendirikan shalat sendiri pun kita beradu cepat dengan
tuntutan pekerjaan. Itulah sebahagian yang terjadi pada kita yang mengaku
beragama dan beradab ini.
Disini tidak ada upaya untuk menggurui,
ataupun merasa paling benar, kita tidak tahu kapan kita akan menghadap sang
Illahi seperti orang-orang diatas tadi?
Saya bukan Alim Ulama atau yang sejenisnya. Tapi perlu direnungkan bahwa suatu
saat nanti kita akan berbungkus kain putih seperti mereka dan akan menerima
balasan yang setimpal karena kita yang menentukan Jalan, jalan menuju dunia
selanjutnya. Saiyidito Hatta
Ebiet G Ade ~ masih ada waktu
This entry was posted on October 4, 2009 at 12:14 pm, and is filed under
. Follow any responses to this post through RSS. You can leave a response, or trackback from your own site.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Posting Komentar