Apabila kue-kue seperti keju, nastar, dsb ramai terlihat di berbagai toko dan dibeli masyarakat, itu berarti lebaran sudah dekat.


Apabila toko-toko grosir atau mall yang menjajakan pakaian ramai diserbu masyarakat dari berbagai kalangan, itu tanda lebaran sudah dekat.


Apabila sudah terlihat di tv setiap hari reporter menghiasi hari-hari memberikan laporan terkini, itu berarti lebaran sudah dekat.


Apabila ramai orang menjual uang/jasa penukaran uang, itu tanda lebaran sudah dekat.


Apabila stasiun, terminal, bandara, pelabuhan sudah terlihat ramai bahkan antrian penumpang membeludak, itu berarti lebaran sudah dekat.




Apabila Kota – kota besar seperti Jakarta khususnya sudah terasa sepi, itu tanda lebaran sudah dekat.



Lebaran, itulah yang dikatakan sebagian besar umat muslim di Indonesia ketika sudah melewati satu bulan penuh Ramadhan dan berpuasa selama itu, bahkan tidak ada perbedaan bagi siapa yang berpuasa penuh, atau orang-orang yang berpuasa hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus saja tapi terkadang dengan sengaja ada beberapa umat muslim sendiri yang membatalkan puasanya disaat waktu belum menunjukan waktunya berpuasa, tapi orang-orang ini tetap merayakan lebaran. Mereka dengan suka cita penuh kemeriahan, kebersamaan dan kebahagiaan merayakan hari besar Umat Muslim yang juga dirayakan oleh muslim diseluruh Dunia. Tiada batasan apalagi halangan dalam berbagai macam perayaan lebaran. Semua kalangan pun ikut serta merayakannya, berlomba-lomba membeli Baju baru, sepatu baru, uang lebaran, pulang kampung, bersalam-salaman tanda memaafkan, dan lain sebagainya itu sebagai bentuk rasa syukur atas hari kemenangan umat islam, khususnya di Indonesia. Sudah menjadi tradisi yang mendarah daging tentunya dari tahun demi tahun hal-hal seperti inipun bagaikan haram hukumnya apabila tidak dirayakan dengan hal-hal yang tersebut diatas tadi.

Sedangkan Idul Fitri itu bagaimana? Idul Fitri menurut opini saya itu selain berarti Kembali Fitri/Suci yaitu adalah suatu hari dimana hari kemenangan yang benar-benar dimenangkan oleh umat muslim secara perorangan/individual karena ia berhasil menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan beserta amalan lainnya tanpa sedikitpun iman nya goyah untuk membatalkan puasa atau melakukan segala tindakan yang dapat membuat pahala puasanya itu berkurang atau bahkan hilang. Makna dari berpuasa itu diibaratkan seperti “turun mesin” . setelah 11 bulan manusia memperkerjakan organ dalam tubuhnya terutama organ Hati, Lambung, Ginjal, dan Usus bekerja terus mencerna makanan yang terkadang manusia tidak dapat mengatur pola makan yang benar sehingga datang Perintah dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk berpuasa dan mengajarkan kepada umat muslim selain untuk mengistirahatkan organ dalam tubuhnya itu selama satu bulan dan juga dimaksudkan untuk belajar mengalahkan godaan setan yang selalu menjerumuskan manusia kedalam hal-hal yang dilaknat oleh Allah. Dari berpuasa kita juga dapat merasakan hal yang dirasakan oleh saudara kita yang kurang mampu dan kita dianjurkan untuk memberikan Zakat kepada mereka yang membutuhkan, implikasinya kita mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda dari menjalankan ketentuan-ketentuan tersebut untuk dijadikan tabungan di akhirat kelak. Idul Fitri itu tidak mengenal perayaan yang megah dan mewajibkan umatnya untuk membeli segala sesuatu yang baru, memberikan uang kepada anak-anak kita. Itu berarti sama saja mengajarkan kepada anak cucu kita bahwa berpuasa itu ganjarannya adalah Uang yang berlimpah ketika sudah di hari raya nanti. Tetapi banyak dari orang tua kita yang tidak mengajarkan makna Idul Fitri itu sebagai hari yang suci dimana kita dapat memenangkan pertandingan melawan godaan setan dengan melaksanakan perintah Allah kepada hambanya selama satu bulan, walaupun di bulan-bulan yang lain kita juga diwajibkan untun menahan hawa nafsu dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Idul Fitri juga adalah momen untuk memohon dan memaafkan segala sesuatu yang pernah kita atau orang lain perbuat yang tidak mengenakan kepada kita. Tetapi bukan hanya di Idul Fitri saja kita memohon dan memaafkan kepada sesama umat tetapi di bulan-bulan lainnya juga demikian, ini yang menjadi salah kaprah bagi hampir seluruh umat muslim di Indonesia yang mana mereka mengumbar maaf hanya di momen lebaran kata mereka, lebaran apa? Lebaran Idul Fitri. Padahal memaafkan itu berat, ya berat karena kita harus mengampuni segala dosa perbuatan yang telah orang-orang lakukan kepada diri kita, tetapi kata mereka dihari lebaran semua itu bisa dimaafkan dan dirayakan bersama.

Berkaca kepada diri sendiri, bahwasanya saya masih bingung apakah Hari kemenangan nanti saya mendapatkan Hari Raya Idul Fitri yang itu berarti saya dan kita telah berhasil menunaikan Ibadah Ramadhan yang tidak hanya berpuasa saja tetapi ibadah-ibadah yang lainnya sehingga nanti jiwa saya kembali menjadi bersih ataukah kita semua hanyalah berlebaran, menabur uang memburu pakaian baru seraya mengumbar maaf bahwa kita sedang Lebaran. Mari kita merenungi ini semua dan mengintropeksi diri. Saya pun yang menulis ini sesungguhnya masih tergolong dalam orang- orang yang munafik dan dari tulisan ini saya bandingkan kemunafikan itu. Sekian. Saiyidito Hatta