Kepada Yth,
Ananda Sahabatku

Assalamu’alaikum Wr.wb

Apa kabarnya wahai engkau sahabatku yang entah dimana. Semoga engkau selalu baik baik saja dalam lindunganNya. Aku disini selalu termenung mengingat akan hadirmu kala aku sedang susah, kala aku sedang gusah, kala aku sedang gundah. Engkau selalu hadir, candamu  bagai kutemukan setetes air ditengah gurun. Tawamu itu melelehkan kubilang. Ya, bagai baja meleleh karena suatu titik panas yang berinteraksi dengan kokohnya baja. Kau tau? Engkau itu panasnya dan baja adalah aku.

Sahabat, masih ingatkah dikau memori indah yang bersemayam direlung dalam ini? Memori yang memutar rol film dalam angan ceritakan kenangan manis tentang tinta cerita yang kau goreskan dalam sebuah bongkah emas. Waktu itu kita masih ada satu sama lain. Berbicara, bercanda, tertawa, semua terbentang seolah alunan dawai merdu gitar yang melantunkan irama melodi yang bercerita tentang kita. Sahabat, bagaimana itu surga? Aku ingin bersamamu melihatnya. Tak ingin aku jatuh ke neraka. Karena dulu kau selalu mengingatkanku disaat aku khilaf. Jika aku ingin melihatnya engkau pasti melarang ku. Tapi aku ingin segera menyusulmu kesana. Jauh , jauuuuh bersamamu.

Sahabat, begitu banyak pilu yang aku terima tanpamu. Terlalu sering palu itu menancapkan paku paku nya ke dadaku tanpa ada yang mencabuti nya lagi. Sakit rasanya. Tidak ada obat penawar yang aku temukan dimanapun. Aku tidak bisa menganggap orang lain sahabat, seperti aku menganggapmu. Aku tidak lagi dapat mengerti esensi dari persahabatan diluar garis lingkaran kita. Sudah banyak manusia yang mengaku sahabat, tapi mereka menusuk nya dari belakang hanya demi ketenaran, kemakmuran, dan kesuksesan.

Sahabat, surat ini aku titipkan pada sebuah benda mati, benda mati yang tertulis namamu kokoh diatasnya. Sekokoh persahabatan kita . andai kau melihatnya maka bacalah. Bacalah surat ini dari kawanmu. Kelak kita berjumpa Insyaallah, saat itu kita tidak akan terpisah lagi.


Salam Hangat,


Sahabat



*Saiyidito Hatta