Cerita Sang Penduka
10.07
Diposting oleh Unknown
Bagai
gemerlap bintang serta rembulan bersamanya
Aku ingin
bercerita
Cerita
tentang diriku saat masih didunia
Mengalir
bagai alunan irama nada
Ragaku ini
mengalir darah, darah seorang keji
Yang tega
mengotori rahim bunda dengan nafsunya
Sembilan
bulan diriku ditanggung malu
Bundaku yang
sabar tetap menjagaku
Saat
terlahir menuju dunia baru
Tiada suka
maupun cita dari keluargaku
Senyum
senyum malu menatap wajah mungilku
Akupun
terbingung menatap hidup penuh pilu
Dunia tempat
aku bercengkerama
Melalui bait
bait nada
Dunia tempat
aku berduka
Melalui
pengasingan dari tetangga
Pandang
wajah mereka aneh
Bak melihat
raut wajah dari sang setan
Tiada kasih
sayang dari keluarga utuh
Yang kudapat
hanya perhatian acuh
Bunda yang
telah pergi mendahuluiku
Melampaui
alam penuh suasana syahdu
Aku bingung,
kepada siapa aku harus berpeluh untuk merindu
Suara dan
pandang wajah itu selalu berputar mengitari anganku
Cuma pandang
gelap yang terlihat
Dan
singgasana keluarga dalam bayang semu
Batinku
menangis yang mengalir hanya tawa gila
Aku tak
sanggup melewati hari hari yang penuh sandiwara
Suatu malam
aku berjalan jalan sepi
Bersama
kilauan cahaya kuning yang menerangi
Semakin
dekat cahaya itu semakin terang
Dan mendekap
ku diatas awang
Tertunduk
kepalaku melihat kebawah
Ada apa
gerangan
Semakin
jelas terlihat kerumunan orang
Yang
mengelilingi raga hancur tak berupa
Cuma aku
yang menyadari kalau wajah hancur itu adalah diriku
Mengapa ,
apa dunia pula tak menerima keberadaanku
Sesaat
muncul wanita cantik membelai rambutku
Wajah
indahnya mengingatkanku akan ibu
Diajaknya
aku kesebuah taman
Indah sekali
Dibawanya
aku kedalam suatu tempat
Yang tidak
pernah kujumpai sebelumnya
Muncul pula
dua makhluk besar bersayap
Yang
menuntun aku terbang semakin tinggi
Alam indah tiada
dua sudah menanti
Sembari
menunggu mereka yang masih menikmati alam duniawi
Tuhan
Sampai
disini catatan hidupku
Terimakasih
engkau telah memberiku kesempatan
Diriku tuk
menapaki apa itu kehidupan
Saat ini aku
tersadar dan terbebas dari belenggu
Karena aku
sudah mati…
This entry was posted on October 4, 2009 at 12:14 pm, and is filed under
. Follow any responses to this post through RSS. You can leave a response, or trackback from your own site.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar